Kisah Pegawai Honor Dinas Kebersihan Dapatkan Rumah

JAKARTA – Adi Haryadi sebagai pegawai honorer disalah satu UPT Dinas Kebersihan tak pernah menyangka bisa memiliki rumah sendiri.

Kendati rumah subsidi tipe 36/72 yang menjadi pilihannya pada pameran Indonesia Properti Expo (IPEX) berlokasi di kawasan Serang Banten, namun Adi merasa bangga karena merupakan rumah bertama.

”Lokasinya dipinggir Jakarta, tapi lingkungannya masih banyak sawah,” kata Adi saat ditemui ditempatnya bekerja, belum lama ini.

Sebagai pegawai tidak tetap, Adi pantas berbangga bisa membeli rumah sendiri. Menjadi kepala rumah tangga yang baru menikah, dia bekerja sendiri membiayai keluarga.

Tak ada pilihan lain untuk menghidupi keluarga serta mewujudkan rumah impian, Adi tak merasa malu dengan profesinya sebagai pegawai honor di dinas kebersihan tersebut.

Suatau hari Istrinya Neneng sempat memberi tahu ada pameran properti yang memasarkan rumah subsidi di JCC.

Setelah mendatangi pameran di Indonesia Properti Expo kemudian satu kali survei lokasi disalah satu proyek perumahan dikawasan Cikande.

Adi mulai punya keberanian, karena memilih proyek rumah itu jauh lebih baik daripada tinggal dirumah kontrakan selama bertahun-tahun nantinya.

Sejak empat tahun lalu, Adi harus membayar Rp 800 ribu untuk menempati rumah kontrakan itu. Dalam hatinya dia berkata. ”Umar saya semakin tua, nantinya bayar kontrakan semakin naik,” katanya.

Saat pertama dibangun, rumah subsidi itu memang hanya punya satu kamar, satu ruang tengah, dan sebuah dapur. Adi pun sempat ragu mengingat hidup bersama istri dan satu anaknya.

Sebenarnya Adi ingin kavling yang 4 meter persegi lebih luas, tapi uang cicilannya terlalu berat.

Begitu mendaftarkan diri dan menyerahkan berkas pengajuan kredit perumahan rakyat (KPR) ke Bank Tabungan Negara (BTN), Adi mulai berhitung.
Disiapkannya Rp 10 juta hasil tabungannya selama menjadi petugas kebersihan. Namun dia mesti bersabar.

”Tiga bulan saya menunggu tak ada kabar, mungkin bank tak percaya saya mampu. Setelah saya telepon developernya, dan developer telepon bank, baru ada petugas datang,” kisah Pria berjampang ini. Saat itu, harapannya nyaris sirna.

Sebagai petugas kebersihan, Adi tak punya pembukuan atau catatan yang bisa membuktikan pendapatan hariannya. Petugas bank yang datang akhirnya mendata berapa jumlah penghasilannya. Mereka sendiri yang menghitung penghasilan tetap dan uang lemburnya. ”Kira-kira penghasilan saya tidak lebih dari UMR,” katanya.

Di luar dugaan, beberapa waktu kemudian, pengajuan KPR bersubsidi diloloskan.

Bahkan, BTN berani memberikan jangka waktu pelunasan lima belas tahun. ”Itu yang paling pendek di kompleks saya. Tetangga yang pegawai kebanyakan 20 tahun,” tambahnya.

Meski menjadi satu-satunya penerima KPR yang bekerja di sektor informal di kompleks perumahannya, Adi justru menunjukkan kedisiplinannya menyetor angsuran.

Malah, dia sudah mampu merenovasi bangunan rumah mungilnya itu.

Adi merupakan satu dari segelintir orang yang bekerja di sektor informal yang berani mengakses kredit bank, khususnya KPR. Di mata developer, Adi menjadi pelajaran baru.

”Dari situ, saya tahu bahwa mereka (orang-orang seperti Adi) lebih layak daripada banyak pegawai dan PNS,” kata Iis seorang konsultan properti.

Leave a Comment